Oct 7, 2011

MANUSIA DAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Oleh: Jajang Sulaeman, S.Pd.


A.    Pengertian Hakikat Manusia
Sudah sejak lama manusia telah berusaha untuk mengetahui tentang hakikat dirinya. Jawaban yang diketemukan bermacam-macam, antara lain adalah yang bercorak filsafati. Oleh karena filsafat adalah berfikir kritik, maka hasilnya juga bermacam-macam.
Jawaban tentang hakikat manusia dapat dilihat dari beberapa dasar peninjauan atau perspektif. Dilihat berdasarkan jumlah asas atau unsur yang menyusunnya, manusia adalah makhluk monistik, yaitu yang tersusun dari satu asas belaka. Satu asas tersebut dapat yang bersifat kebendaan maupun kerokhanian.Kaum spiritualis berpendapat bahwa manusia terdiri atas jiwa, sedangkan kaum atomis berpendapat bahwa manusia terdiri atas atom sebagaimana dikemukakan oleh Demokritos.
Ada juga yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk dualistic, yaitu yang tersusun atas jiwa dan raga, tetapi keduanya tidak ada hubungannya. Meskipun diakui adanya jiwa dan raga, namun keduanya tidak saling berhubungan, sebagaimana dikemukakan oleh Rene Descartes.
Kemudian ada juga yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk pluralistic, yaitu terdiri atas banyak asas atau unsur. Empedocles mengatakan bahwa segala sesuatu terdiri atas air, api, udara, dan tanah. Karena itu manusia sebagai sesuatu, juga terdiri atas unsur-unsur tersebut.
Berdasarkan atas proses terjadinya manusia adalah makhluk evolusi, artinya sebagai hasil perkembangan dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi, melalui seleksi-seleksi dan berjalan secara perlahan-lahan serta otomatis. Pendapat ini yang terkenal ialah yang dikemukakan oleh Charles Darwin.
Jauh sebelum Charles Darwin mengemukakan pendapatnya, seorang filosof Yunani Aristoteles telah mengatakan bahwa manusia adalah animal rasionale. Dalam hal ini ada tingkat-tingkat perkembangan yaitu : benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan,binatang dan akhirnya manusia. Karena itu perkembangan jiwanya juga sesuai dengan perkembangan tersebut yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan, jiwa binatang dan akhirnya jiwa rasional.
Berdasarkan atas bidang-bidang ilmu, dilihat dari sudut pendidikan, manusia disebut sebagai homo pedagogikus, dari sudut ekonomi disebut homo ekonomikus, dari sudut hukum disebut homo yuridikus, dilihat dari sudut teknis disebut homo teknikus.
Sedangkan dalam perspektif Islam, hakikat manusia juga dapat ditinjau dari berbagai aspek. Dalam Islam ditemukan beberapa istilah penyebutan manusia, yaitu : al-insan (QS al-Insan : 1), al-basyar (QS al-Hijr : 28), Bani Adam (al-Isra’ : 70) dan an-naas (QS an-Naas : 1 dsb).
Bila dilihat dari aspek proses kejadiannya, manusia melewati proses penciptaan yang dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut :
  1. Melalui masa yang tidak disebutkan (QS al-Insan : 1).
  2. Mengalami beberapa tingkatan kejadian (QS Nuh : 14).
  3. Pada masa ruh berjanji kepada Allah (QS al-A’raf : 172).
  4. Ditumbuhkan dari tanah seperti tumbuh-tumbuhan (QS Nuh : 17).
  5. Dijadikan dari tanah liat = lazib (QS ash-Shaffat : 11).
  6. Dijadikan dari tanah kering dan lumpur hitam (shalshal dan hamain) (QS al-Hijr : 28).
  7. Berproses dari saripati tanah, nuthfah dalam rahim, segumpal darah, segumpal daging, tulang, dibungkus dengan daging, dan menjadi makhluk yang paling baik (QS al-Mu’minun : 12-14).
  8. Kemudian ditiupkan ruh (QS ash-Shad : 72 dan al-Hijr : 29).
 Bila dilihat dari unsur yang membentuknya, manusia terdiri dari roh dan jasad, dengan segala potensinya yang khas. Kedua unsur tersebut membentuk senyawa sehingga terwujud proses dan mekanisme hidup manusia di dunia ini. Terputusnya kedua unsur tersebut ini berarti terjadinya kematian, yakni berpisahnya unsur rohani (jiwa) dan jasmani (jasad).
Jawaban-jawaban tersebut di atas menunjukkan bahwa manusia dapat diketahui arti kakikatnya melalui berbagai pendekatan. Hingga sekarang kita masih disibukkan oleh berbagai kegiatan agar dapat menjawab secara tepat mengenai hakikat manusia.

B.     Mengapa Manusia Perlu Dididik ?
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa manusia pada hakikatnya merupakan makhluk Tuhan YME yang diciptakan dengan potensi rohani dan jasmani yang sempurna. Segala potensi jasmani dan rohani manusia perlu dibina dan dikembangkan agar menjadi suatu kemampuan yang akan membawa pada suatu kesempurnaan dalam menjalani kehidupannya sebagai manusia.
Dalam konteks itulah proses pendidikan sangat diperlukan bagi manusia, yakni sebagai suatu upaya manusiawi untuk membina dan mengembangkan segala potensi manusia secara utuh, sehingga mampu menghasilkan manusia yang berkualitas dalam arti yang seluas-luasnya serta mampu menjalankan fungsi perannya dalam berbagai bidang dan gatra kehidupannya secara proporsional.
Dengan perkataan lain bahwa pendidikan adalah proses untuk memanusiakan manusia. Manusia tidak akan mampu tampil menjadi manusia yang selaras dengan sifat-sifat kemanusiaannya tanpa melalui proses pendidikan. Karena proses pendidikanlah yang mampu membedakan kualitas manusia dengan makhluk lainnya.
Pendidikan sebagai sarana untuk membina potensi manusia secara utuh, maka proses pendidikan juga harus bersifat utuh, mencakup melatih, mengajar dan membimbing. Proses latihan adalah untuk membina potensi yang berkaitan dengan berbagai keterampilan. Proses mengajar adalah untuk membina potensi akal fikiran dengan berbagai ilmu pengetahuan (knowledge). Sedangkan membimbing adalah proses pendidikan untuk membina hati nurani manusia.
Melalui ketiga proses inti pendidikan tersebut, maka secara global dan teoritis terdapat tiga potensi manusia yang menjadi sasarannya, yakni potensi kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga potensi itu harus dikembangkan secara simultan melalui proses pendidikan, sehingga diharapkan mampu membina manusia dengan kepribadian yang utuh pula.
 
C.    Urgensi Pendidikan Dalam Islam

Di dalam khazanah pemikiran Islam, terutama karya-karya Ilmiah berbahasa arab, terdapat berbagai istilah yang dipergunakan oleh ulama dalam memberikan pengertian tentang “Pendidikan Islam” dan sekaligus diterapkan dalam konteks yang berbeda-beda.
Pendidikan Islam itu, menurut Langgulung (1997), setidak-tidaknya tercakup dalam delapan pengertian, yaitu al-tarbiyah al-diniyah (pendidikan keagamaan), ta’lim al-din (pengajaran agama), al-ta’lim al-diny (pengajaran keagamaan), al-ta’lim al-Islamy (pengajaran keIslaman), tarbiyah al-muslimin (pendidikan orang-orang Islam), al-tarbiyah fi al Islam (pendidikan Islami).
Dikalangan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, istilah “Pendidikan” mendapatkan arti yang sangat luas. kata-kata pendidikan, pengajaran, bimbingan dan pelatihan, sebagai istilah-istilah tekhnis tidak lagi dibeda-bedakan oleh masyarakat kita, tetapi ketiga-tiganya melebur menjadi satu pengertian baru tentang pendidikan (Mochtar Buchori, 1989). Di dalam undang-undang nomor 2/1989 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 1 misalnya, dijelaskan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiaan bimbingan, pengajaran, dan/atau pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang”. Dari sini dapat dipahami bahwa dalam kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau pelatihan terkandung makna pendidikan.
Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupanya sebagai aktifitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktifitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup (bagaimana orang akan menjalani dan memanfaatkan hidup dan kehidupanya), sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental dan sosial. Sedagkan pendidikan sebagai fenomena adalah perstiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak.dalam konteks pendidikan Islam, berarti pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup tersebut harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah/Al-Hadits.
Urgensi Pendidikan Agama Islam tidak terlepas dari tujuan pendidikan itu sendiri. Secara umum, Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk “meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.
Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yaitu :
  1. Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam. Dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual)
  2. Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan Ajaran Islam. 
  3. Dimensi pengamalanya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakan, mengamalkan, dam menaati ajaran agama dan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta mengaktualisasikan dan merealisasikanya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Tujuan PAI tersebut dapat lebih dipersingkat lagi, yaitu: ”agar siswa memahami, menghayati, meyakini, dan mengamalkan Ajaran Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia”. Rumusan tujuan PAI ini mengandung pengertian bahwa proses pendidikan Agama Islam yan dilalui dan dialami oleh siswa di sekolah dimulai dari tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, untuk selanjutnya menuju ketahapan afeksi, yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama kedalam diri siswa, dalam arti menghayati dan meyakininya.
Tahapan afeksi ini terkait erat dengan kognisi, dalam arti penghayatan dan keyakinan siswa menjadi kokoh jika dilandasi oleh pengetahuan dan pemahamanya terhadap ajaran dan nilai Agama Islam (tahapan psikomotorik) yang telah diinternalisasikan dalam dirinya. Dengan demikian, akan terbentuk manusia muslim yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.
Tugas Guru Pendidikan Agama Islam adalah berusaha secara sadar untuk membimbing, mengajar dan/atau melatih siswa agar dapat :
Meningkatkan keimanan dan ketaqwaanya kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
  1. Menyalurkan bakat dan minatnya dalam mendalami bidang agama serta mengembangkanya secara optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri daan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.
  2. Memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahanya dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan Islam dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Menangkal dan mencegah pengaruh negative dari kepercayaan, paham atau budaya lain yang membahayakan dan menghambat perkembangan keyakinan siswa.
  4. Menyesuaikan diri dengan lingkunganya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang sesuai dengan ajaran Islam.
  5. Menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
  6. Mampu memahami, mengilmui pengetahuan agama Islam secara menyeluruh sesuai dengan daya serap siswa dan keterbatasan waktu yang tersedia.

 
DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin, suti’ah, Nur Ali, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya mengefektifkan pendidikan agama Islam di sekolah, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.

Idi, Abdullah, pengembangan kurikulum: teori dan praktik, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1999.

No comments:

Post a Comment